Ngagogo

KEBIASAAN lama masyarakat sunda tempo “doeloe” saat menangkap ikan di kolam atau di sungai kembali digalakan warga Kabupaten Bandung. Kebiasaan tersebut menurut istilah mereka dinamakan “Ngagogo Lauk” atau menangkap ikan beramai-ramai tanpa menggunakan alat apapun.

Munculnya berbagai kepercayaan dan aturan tidak tertulis yang terus diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, seperti adanya ‘kapamalian’ atau pantangan turut berperan dalam upaya pelestarian dan perlindungan lokasi tersebut dari berbagai rongrongan perilaku kurang baik, sehingga tetap terjaganya keseimbangan alam serta kearifan lokal yang hidup karenanya. Turut melengkapi berbagai cerita yang berkembang, sebuah mitos tentang adanya khasiat dibalik aliran mata air tersebut diantaranya adalah tentang rahasia awet muda telah mendorong pihak-pihak yang masih meyakininya untuk mewujudkan keyakinannya dalam berbagai bentuk ritual atau pembiasaan. Air dari mata air Ciburial juga menjadi salahsatu yang diikutsertakan dalam sebuah tradisi yang digelar oleh Disparbud Kabupaten Garut, yaitu ‘Kawin Cai’ yang berupa prosesi menggabungkan air dari 7 mata air dari berbagai ‘Kabuyutan’ dan ‘Kampung Adat’ yang tersebar di wilayah Kabupaten Garut.

Mata air yang sering diistilahkan dalam bahasa Sunda sebagai ‘Cinyusu’ atau ‘Cikahuripan’ sangat erat dengan filosofi keberkahan, sehingga tidaklah berlebihan jika ‘Mata Air Ciburial’ saat ini dijadikan sebagai ikon atau branding desa wisata yang dikembangkan di Desa Sukalaksana. Filosofi mata air yang akan terus mengalirkan berkah bagi segenap warga menjadi sebuah doa dan harapan yang disematkan dalam rangkaian program yang digulirkan melalui kegiatan Desa Wisata Saung Ciburial.