Domba Garut

Domba merupakan salah satu hewan yang di unggulkan khas dari Garut. Di Saung Ciburial, Pengunjung bisa ikut terjun mencoba memandikan, memberi pakan, mengolahragakan domba, dan merawat domba. Selain itu pengunjung juga dapat menyaksikan Atraksi Ketangkasan Domba Garut atau yang biasa di kenal sebagai adu domba garut sebagai bentuk pelestarian budaya.
Domba Garut atau Domba Priangan adalah domba yang berasal dari daerah Limbangan Kabupaten Garut. Dalam bahasa latin disebut ovis aries yang merupakan campuran dari perkawinan antara domba lokal dengan domba jenis capstaad dari Afrika Selatan dan domba merino dari Australia. Domba capstaad sudah ada lebih dulu di Garut, sementara domba merino baru didatangkan ke Garut pada abad ke-19. Dari ketiga jenis domba itulah, lahir varietas baru yang kemudian disebut domba Garut.
Cara-cara pemeliharaan domba Garut tidak sembarangan. Selain diberi rumput pilihan, domba ini juga sering diberi susu yang dicampur madu. Belum lagi pemeliharaan fisiknya yang harus tetap dijaga bersih dan sehat.
Dewasa ini jenis domba Garut justru banyak ditemukan di daerah lain. Bila diadakan acara-acara adu domba atau pasanggiri domba hias, seringkali domba-domba yang berasal dari Garut kalah oleh domba Garut yang dipelihara di luar daerah.

 Tradisi adu domba ini berawal pada masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar 1815-1829, yang berkunjung ke sejawat perguruannya, Haji Saleh yang mempunyai banyak domba. Ia meminta salah satu domba sahabatnya yang dinamai Si Lenjang dikawinkan dengan domba yang ada di Pendopo Kabupaten yang bernama Si Dewa. Keduanya kemudian beranak-pinak menghasilkan keturunan domba Garut yang dikhususkan hanya sebagai hewan pada pentas seni adu tangkas yang berbeda dengan hewan domba umumnya.

Dalam sebuah pertandingan adu ketangkasan domba, selain wasit, ada juga inspektur pertandingan (IP) yang berjumlah tiga orang. Tugas IP memberikan penilaian terhadap kriteria domba. Lalu menyetorkan ke juri yang bertugas mengklasifikasikan dengan kelas yang dipertandingkan.

Biasanya domba yang bertanding dibagi dalam beberapa kelas,  kelas A, B, dan C. Masing-masing kelas dibedakan dengan bobot domba. Kelas A bobot maksimal 65 kg, kelas B bobot antara 65,1 kg hingga 75,0 kg, sedangkan kelas C bobotnya diatas 75,1 kg

Sebelum adu ketangkasan domba dimulai, wasit memberikan penjelasan kepada para panantang mengenai aturan jalannya laga ketangkasan domba. Wasit akan menjelaskan  kriteria dan persyaratan lomba, sehingga seluruh peserta memahami jalannya pertandingan.

Setiap ada pergelaran laga adu domba, hampir seluruh peternak dan kolektor domba aduan berkumpul. Selain untuk menguji kekuatan domba aduan dan menjadi jawara domba aduan, even ini menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan budaya dan mengembangkan domba aduan khas Garut.

Saat diadu, domba tampil seperti ratu, dengan kalung yang mayoritas berwarna merah, kalung bunga dan sesajen dari pawang. Para pemiliknya juga tampil dengan setelan baju pangsi berwarna serba hitam, plus atribut ikat kepala. Begitu bertemu lawan di arena, domba aduan Garut mengambil ancang-ancang, mundur beberapa meter, lalu  berlari untuk mengadu kekerasan tanduknya.

Saat tanduk beradu, badan kedua domba terlihat seperti terbang dan kaki bagian belakang terangkat. Domba yang masih kuat berdiri akan dinyatakan sebagai pemenang dan domba dinyatakan kalah jika lari menghindar atau dikejar domba lainnya.

Selama adu domba berlangsung, penonton, termasuk pendukung yang hadir, memberikan semangatnya dengan tabuhan gamelan dan alat kesenian tradisional degung yang dipandu nayaga cantik di podium. Sesekali para juri dan pemandu acara menyemangati penonton, agar acara lebih hidup.

Petandang (Pamilion), atau pemilik domba aduan pun mengawasi jagoannya masing-masing dan memberikan kode-kode perlawanan. Wasit yang memimpin pertandingan bertugas mengawasi jalannya laga ketangkasan para domba dan menentukan lanjut tidaknya pertandingan.

Dalam satu laga, total pukulan atau aduan yang diberikan hanya sekitar 20 pukulan atau ketrekan, istilah adu tanduk di kalangan peternak atau patandang domba. Jika melebihi pukulan ke tujuh atau mulai ke delapan domba cedera, maka domba dianggap gugur atau kalah.

Untuk mengembalikan kondisi tubuh domba, pada pukulan ke-15 atau setelah pukulan ke-15, wasit memberikan kesempatan bagi para patandang untuk merawat kembali domba mereka. Biasanya saat waktu jeda ini domba akan dipijat supaya ototnya kembali normal.

Menjadi juara dalam adu domba akan menaikkan pamor domba dan peternaknya. Nilai jual domba aduan bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekornya. Selain sebagai wahana wisata, laga domba Garut sebagai upaya mencari bibit domba yang memiliki nilai jual tinggi. 

Kontes adu domba ini juga selalu menjadi bagian dari pesta ternak atau yang dikenal di wilayah Jawa Barat dengan pesta patok, karena banyak patok atau kayu bambu yang ditanam untuk mengikat hewan atau ternak yang hendak dipamerkan.